Rabu, 10 Agustus 2016

Memulai Kembali Hobi Lama

Aku tak pernah melihat gunung menangis Biarpun matahari membakar tubuhnya Aku tak pernah melihat laut tertawa Biarpun kesejukkan bersama tariannya ..

Sepenggal syair lagu dari group Band Payung Teduh sepertinya menggugahku utk membuka beberapa lembaran foto usang yg tak pernah tersentuh dan kotor oleh debu ..

Perjalanan yg melelahkan di medio 90 an oleh ku yg hampir tak pernah ku ceritakan kepada anak dan istri.

Sedih senang lelah dan mengantuk itulah kesan pertama yg aku alami ketika menjejakan kaki di sebuah gunung yg angkuh di jawa barat ..ya Gn Gede Pangrango

Berikut sedikit kutipan ttg gunung gede yg diambil dari wikipedia Indonesia ..
Kawasan Gunung Gede dan Gunung Pangrango sesungguhnya telah dikenal lama dalam dongeng dan legenda tanahSunda. Salah satunya, naskah perjalanan Bujangga Manik dari sekitar abad-13 telah menyebut-nyebut tempat bernamaPuncak dan Bukit Ageung (yakni, Gunung Gede) yang disebutnya sebagai "..hulu wano na Pakuan" (tempat yang tertinggi diPakuan)[1]. Agaknya, pada masa itu telah ada jalan kuno antara Bogor (d/h Pakuan) dengan Cianjur, yang melintasi lereng utara G. Gede di sekitar Cipanas sekarang[2].
Pada masa penjajahan Belanda wilayah yang subur ini kemudian tumbuh menjadi area pertanian, terutama perkebunan. Sedini tahun 1728 teh Jepang telah mulai ditanam, dan pada 1835 perkebunan teh ini telah dikembangkan di Ciawi dan Cikopo. Menyusul pada 1878 dikembangkan teh Assam, yang terlebih sukses lagi, sehingga mengubah lansekap dan perekonomian di seputar lereng Gede-Pangrango.[2]
Kawasan Gede-Pangrango juga dikenal sebagai salah satu tempat favorit dan tertua, bagi penelitian-penelitian tentang alam di Indonesia. Menurut catatan modern, orang pertama yang menginjakkan kaki di puncak Gede adalah Reinwardt, pendiri dan direktur pertama Kebun Raya Bogor, yang mendaki G. Gede pada April 1819. Ia meneliti dan menulis deskripsi vegetasidi bagian gunung yang lebih tinggi hingga ke puncak. Reinwardt sebetulnya juga menyebutkan, bahwa Horsfield telah mendaki gunung ini lebih dahulu daripadanya; akan tetapi catatan perjalanan Horsfield ini tidak dapat ditemukan.[3]
Dua tahun kemudian, melalui sehelai surat yang dikirimkan dari Buitenzorg (sekarang Bogor) pada awal Agustus 1821, Kuhldan van Hasselt menyebutkan bahwa mereka baru saja menyelesaikan pendakian dan penelitian ke puncak Pangrango. Kedua peneliti muda itu menemukan banyak jejak dan jalur lintasan badak jawa di sana; bahkan mereka menggunakannya untuk memudahkan menembus hutan menuju puncak G. Pangrango. Delapan belas tahun kemudian Junghuhn mendaki ke puncak Pangrango pada bulan Maret 1839, dan juga ke puncak Gede dan wilayah sekitarnya pada bulan-bulan berikutnya, untuk mempelajari topografigeologimeteorologi, serta botani tetumbuhan di daerah ini.[3] Sejak masa itu, tidak lagi terhitung banyaknya peneliti yang telah mengunjungi kawasan ini hingga sekarang, baik yang tinggal lama maupun yang sekadar singgah dalam kunjungan singkat.
Banyaknya peneliti yang berkunjung ke tempat ini tak bisa dilepaskan dari kekayaan dan keindahan alam di Gunung Gede-Pangrango, dan awalnya juga oleh keberadaan Kebun Raya Cibodas; yang semula—ketika dibangun pada 1830 olehTeijsman—sebetulnya dimaksudkan sebagai kebun aklimatisasi bagi tanaman-tanaman yang potensial untuk dikembangkan dalam perkebunan. Kebun, yang kemudian dikembangkan menjadi kebun raya (lk. 1870), ini menyediakan tempat menginap yang cukup baik, sarana penelitian, serta catatan-catatan dan informasi dasar yang terus bertumbuh mengenai keadaan lingkungan dan hutan di sekitarnya. Pada tahun 1889, atas usulan Treub, sebidang hutan pegunungan seluas 240 hektare di atas kebun raya tersebut hingga ke wilayah sekitar Air Panas ditetapkan sebagai cagar alam oleh Pemerintah Hindia Belanda.[4] Inilah cagar alam dan kawasan konservasi ragam hayati yang pertama didirikan di Indonesia[5]. Belakangan, pada 1926, cagar alam ini diperluas hingga mencakup puncak-puncak gunung Gede dan Pangrango, dengan luas total 1.200 ha[4].
Bersama dengan meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya lingkungan hidup, pada tahun 1978 Pemerintah Indonesia menetapkan Cagar Alam (CA) Gunung Gede Pangrango seluas 14.000 ha, melingkup kedua puncak gunung beserta tutupan hutan di lereng-lerengnya. Kemudian pada 6 Maret 1980 cagar alam ini digabungkan dengan beberapa suaka alam yang berdekatan dan ditingkatkan statusnya menjadi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango—satu dari lima taman nasionalyang pertama di Indonesia, dengan luas keseluruhan 15.196 ha. Dan akhirnya, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 174/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003 tentang Penunjukan dan Perubahan Fungsi Kawasan Cagar Alam, Taman Wisata Alam, Hutan Produksi Tetap dan Hutan Produksi terbatas pada Kelompok Hutan Gunung Gede Pangrango, kawasan TN Gunung Gede Pangrango memperoleh tambahan area seluas 7.655,03 ha dari Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, sehingga total luasannya kini menjadi 22.851,03 ha


Nuansa alam yg indah membuat siapapun akan merasa dekat dgn Pencipta ...ini mengingatkanku akan kata kata Indah dari Alkitab

" Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.+ Bahkan ia menaruh waktu yang tidak tertentu dalam hati mereka,+ agar manusia tidak pernah dapat memahami pekerjaan yang dibuat oleh Allah yang benar sejak permulaan sampai akhir. - Peng 3 : 11


Sabtu, 05 September 2015

SENJA  YANG  HILANG

Jika pagi datang
Kemanakah senja yg tadinya gelap menghilang..?
Jika embun pagi datang
Kemanakah senja yg membawanya turun ikut menghadang..?

Senja yang hilang akan selalu datang
Disetiap hari hari yg ada
Hidup bergerak disaat mentari malu utk turun
Senja yg hilang akan digantikan cahaya terang dari sinar yg lainnya...

Rabu, 02 September 2015

Menunggu Emak Kerja Bakti

Namanya adalah Azaria Damar Saputro, lahir di jakarta tahun 2005 banyak hari yg kami lewati bersama dengannya salah satunya adalah menunggu sang Emak pulang dari kantor ..

Hari itu sabtu tapi tahun 2008 hehehehe ....Boss Istri dari salah satu majalah wisata ternama mengundangnya utk kerja bakti di lingkungan kantornya -- maka tak lupa kami mengajak si beruang madu utk ke TKP

Dari Ciledug via Tanah Kusir krn kantor Istri di daerah Praja dalam ( Pondok Indah )  otomatis kami melewati jalur rel kereta api tanah kusir yg padat kami sengaja menunggu sesuatu yg akan lewat di pagi ini ...yaa Kereta Api ..tutt...tuttt..tutt..

Senang bahagia dan murah ...



Keluarga Kami Bukan Keluarga Cemara

Keluarga Cemara merupakan sebuah sinetron yang ditayangkan pada tanggal 6 Oktober 1996 hingga tamat pada tanggal 28 Februari 2005. Sinetron ini pada awalnya ditayangkan RCTI, 2 tahun kemudian dilanjutkan penayangannya oleh TV7. Pemeran utama sinetron ini antara lain Novia KolopakingLia WarokaAdi Kurdi, dan Ceria HD

Alur ceritanya cukup menarik utk disimak berisi konflik internal yang banyak kita temui dalam keseharian hidup, tapi memiliki berjuta makna utk disikapi dalam kehidupan 

Menarik...? yaa memang menarik tapi sayang bahwa itu semua hanya ada dalam dunia sinetron dan kisah klasik lainnya yg biasanya hanya muncul dalam dunia TV, angan dan harapan saja

Karena itu cukuplah kami menyikapinya dgn jalan kami sendiri, bahwa kami bukanlah keluarga Cemara.

Masih jauh dari sempurna utk sebuah keluarga yg memiliki keindahan dari dunia angan, sinetron dan tv masa kini maupun buku buku dalam kisah klasik hebat

sekapur sirih dari penulis tidaklah bisa membuat kapur utk menulis, bercerita maupun berkata dalam bentuk apapun 

Penulis hanyalah anak ke-2 dari 6 bersaudara yg saat ini memiliki seorang istri dengan 1 anak yg berumur 10 tahun

Tujuan Blog ini secara pribadi dibuat hanya sebagai pengganti buku diary yg telah lama hilang dibangku Sekolah dulu entah kemana dan ada bersama siapa ...?

Semoga berkenan 

dari Keluarga Kami ( Ediyono Yudo Dwi Saputro- Yane Wijaya - Azaria Damar Saputro )